The Chronicle of Enigma: The Two Rings



Caraveena bukan gadis biasa. Ia adalah seorang peramal yang terlahir di dunia para penyihir. Tapi tidak seperti kebanyakan peramal yang lebih memusatkan perhatian pada ramalan-ramalan nasib biasa, Caraveena justru lebih suka melakukan penelitian di laboratoriumnya. Meneliti tentang sesuatu yang tak pernah terlintas untuk diteliti oleh siapapun: dunia kematian. Karena rasa keingintahuannya tentang dunia itu dan bagaimana ia mencoba meyakinkan banyak pihak bahwa dunia itu ada, ia kerap dipergunjingkan serta di pandang aneh oleh orang-orang sekitar termasuk keluarganya sendiri yang tergolong penyihir sejati yang tak percaya dengan takhyul seperti itu.


Bagaimanapun juga Caraveena tetap bersikukuh mempercayai keyakinannya. Ia mencoba mencari cara agar ia mampu berinteraksi dunia kematian melalui percoban demi percobaan yang dilakukannya. Hingga pada suatu ketika, hasrat untuk mengetahuinya kian tak terbendung ketika sahabatnya meninggal dunia bersama kekasihnya dengan cara bunuh diri. Karena ingin bertemu dengan sahabatnya itu , Caraveena meminta Profesor Klain yang memiliki ketertarikan yang sama denganya dalam hal kematian untuk membantunya agar ia bisa berinteraksi dengan dunia kematian. Meski awalnya Profesor Klain tidak setuju dengan keputusan Caraveena yang dianggap terlalu gegabah dan beresiko, namun akhirnya ia menyetujui hal ini setelah adanya ancaman dari Caraveena dan pemikiran bahwa hal ini bisa menghilangkan pandangan aneh orang-orang pada mereka berdua bilamana percobaan ini berhasil.


Selama percobaan ini berlangsung Caraveena hanya diberi tenggat waktu kurang lebih 12 jam di dunia kematian. Ia harus segera dipulangkan begitu waktu telah mencapai batasnya. Caraveena setuju dan mencoba memulai semuanya dengan meneguk ramuan yang mengakibatkannya melayang tinggi secara transparan ke suatu tempat bernama Nimbus.


Negeri Nimbus itu sendiri merupakan suatu negeri di atas awan yang menjadi tempat persinggahan arwah-arwah yang akan dikirim ke Hades, tempat yang menjadi tujuan akhir bagi para arwah. Kaum Bats yang menjadi penduduk Nimbus akhirnya menemukan Caraveena di tempat itu dan segera membawanya ke Hades seperti arwah lainnya. Tapi sebelum semua itu terjadi Caraveena lebih dulu menolak dan bersikeras tidak kemana-kemana sampai batas waktunya habis. Kaum Bats yang tergolong kaum yang serba berwarna putih dan terkenal dengan  makhluk 'tanpa emosi', lalu meminta Marlon pemimpin Nimbus untuk turun tangan membujuk gadis itu meski akhirnya Marlon malah jatuh hati pada Caraveena dan meminta gadis itu menetap di Nimbus sampai batas waktu yang diinginkan.


Caraveena pun merasa senang dan tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada perlakuan baik Marlon yang mengizinkannya tinggal. Begitupun Marlon yang sepertinya ingin semakin dekat dengan Caraveena. Mereka berdua berbagi banyak hal hingga pada suatu ketika Caraveena tersentak oleh pernyataan sekaligus sebagai jawaban dari Marlon yang menjelaskan kehidupan setelah kematian yang dialami sahabatnya selama ini. Caraveena tak bisa menahan rasa sedihnya. Bersamaan dengan itu waktu Caraveena disana pun kian habis hingga perlahan-lahan tubuhnya menghilang. Mengetahui kebenaran kembalinya Caraveena itu membuat Marlon panik dan berniat untuk bertemu Caraveena kembali dengan cara apapun, termasuk memberikan cincin kembar yang menjadi barang berharga Negeri Nimbus.


Setelah itu Caraveena pun akhirnya kembali ke negeri asalnya, Merlin. Namun kembalinya Caraveena tersebut ternyata diketahui oleh Pemerintah Hades. Mereka menjadi murka karena merasa Caraveena telah melanggar aturan dunia kematian dan itu semua terlaksana berkat bantuan Marlon. Apalagi kedekatan keduanya yang dibenci dan dianggap terlarang  oleh Hades membuat kehidupan Caraveena maupun Marlon  tak akan  pernah lagi sama seperti sebelumnya.


The Two Rings menurutku merupakan karya sastra yang sangat menarik dan unik. Di lihat dari konsep ceritanya yang mengambil tema dunia kematian sebagai pondasi dan meramunya dengan baik menjadi kisah romance antar dimensi. Sosok Caraveena dan Marlon juga turut hadir menambah warna dalam jalan cerita novel ini melalui karakter uniknya masing-masing. Ada Caraveena yang merupakan sosok perempuan yang kuat sekaligus polos disaat yang bersamaan hingga sulit bagi siapapun untuk tidak jatuh pada sosok yang satu ini. Begitu juga halnya dengan Marlon. Sosok yang satu ini bisa dibilang menjadi tokoh favoritku  karena keunikan yang ada pada dirinya. Digambarkan bahwa dia sosok yang serba putih dari kepala sampai kaki serta memiliki pupil mata seperti kucing.  Kebayang gak ngerinya?.Tapi kalau dilihat-lihat lagi, justru itulah menjadi daya tarik. Ditambah lagi perjalanan hidupnya yang terasa tak membahagiakan hingga ia terpaksa mengambil sikap dengan penuh perhitungan itu membuat tokoh Marlon menarik banyak simpati.


Sejujurnya,aku ingin sekali memberi bintang lima untuk novel fantasi lokal karya Vinna Kurniawati ini. Karena bagaimanapun juga aku suka dengan konsep cerita, diksinya yang mendalam, dan alurnya maju mundurnya itu.  Tapi karena ada beberapa kesalahan cetak di beberapa kata  dan akhir cerita yang kurang memuaskanku secara pribadi (kenapa harus berakhir seperti itu???) maka bintang empat sepertinya lebih layak diberikan. hohoho



=================

Judul : The Chronicle of Enigma : The Two Rings
Penulis : Vinna Kurniawati
Penerbit: Medium
Terbit : @2011
ISBN :  978-602-8144-14-8
Tebal : 244 hal

=================




Danur


Pernakah terbayang olehmu berkenalan oleh makhluk halus yang sering kau sebut hantu? mengobrol,bercanda tawa, bahkan menjalin persahabatan dengannya?
Hal itulah yang dialami oleh seorang Risa Saraswati. Sejak kecil ia sudah terpisah dari kedua orang tuanya dan tinggal bersama nenek dan sepupunya di sebuah rumah peninggalan Belanda. Disanalah pertemuan pertamanya dengan makhluk dimensi lain terjadi. Ia berkenalan dengan Peter, Hans, Hendrick,William,dan Jahnsen, lima anak hantu Belanda yang mendiami rumah tua itu bersama hantu keluarga Belanda lainnya. Anehnya tak ada sedikitpun rasa takut yang menghinggapinya. Yang ada hanyalah kenyamanan dan rasa persahabatan yang didapatnya dari kelima anak hantu Belanda tersebut.


Risa pun setelah itu merasa  tak lagi  diliputi kerinduan pada orang tuanya di desa karena  lima sahabat hantunya telah berhasil mewarnai hari-harinya. Mereka berlima hadir membawa keceriaan dan kebahagiaan dalam hidupnya.  Karenanya, sebagai sahabat pula, Risa berusaha mencoba menjadi pendengar baik untuk sahabat-sahabat hantunya. Kebanyakan dari mereka bercerita mengenai kesedihan yang masih terus mereka berlima  rasakan karena ulah kekejaman Jepang  yang merengut paksa kehidupan dari diri mereka. Terkadang dalam bercerita, mereka kerap menunjukan ekspresi kemarahan,amukan,serta jeritan yang diikuti perubahan wujud mereka yang seringkali mengerikan. Risa yang saat itu masih belia, tanpa rasa takut ,mencoba untuk bersikap simpati dan diam-diam memilih mengambil hikmah dari setiap kisah tragis yang dialami sahabat-sahabat hantunya serta lebih banyak bersyukur pada kehidupan yang ia tengah miliki saat itu.


Tahun demi tahun berlalu dengan cepat. Persahabatan istimewa antara Risa dan kelima sahabat hantunya diuji. Risa yang saat itu tumbuh dan  berkembang pesat menuju usia remaja berjanji pada Pieter untuk mengakhiri hidupnya diusia yang sama dengan Pieter kala itu, 13 tahun. Alasannya tidak lain adalah agar mereka selamanya tetap bersama tanpa takut menjadi dewasa . Ia pun  mencoba menepati janji itu dengan melakukan percobaan bunuh diri selama tiga kali dan semuanya gagal. Risa pun menyesal karena melanggar janji yang tak seharusnya ia ucapkan itu. Tapi nasi telah menjadi bubur, Pieter marah besar hingga kemudian mengajak serta keempat sahabat hantu lainnya untuk menjauh selamanya dari kehidupan Risa. 
Kini Risa pun sendiri. Ia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan dunia normal yang seharusnya menjadi tempatnya berada sejak dulu. Dengan kebulatan tekad, ia pun mencoba menutup mata dan telinga terhadap kemampuannya melihat hantu-hantu yang datang silih berganti dalam berbagai wujud demi meminta pertolongan darinya. Ia menjadi muak  karena memiliki kemampuan supranatural ini didalam dirinya. Sejak kepergian kelima sahabat terbaiknya ia merasa tak lagi ingin berhubungan dengan hantu manapun. Hantu hantu itu hanya memberi energi negatif padanya melalui kisah-kisah tragis mereka dan ia sama sekali tidak menginginkan semua itu. Lantas apa yang sebenarnya yang inginkan? apakah ia harus melepaskan kemampuan supranaturalnya demi menjadi manusia normal seutuhnya?kalau ia melakukan hal itu, ia tahu benar tak akan bertemu lagi dengan Pieter dan sahabat-sahabat hantunya yang ia cintai. Apa yang harus ia perbuat?Bagaimanapun juga ia tidak sanggup menolak lubang-lubang kerinduan yang menganga dalam dirinya. Ia butuh mereka berlima disisinya, tapi apa itu salah?


Melihat sekilas judul buku ini, kita akan bertanya-tanya, Apa sebenarnya maksud dari Danur itu sendiri? Setelah ditelisik, Danur itu ternyata ialah air yang keluar dari jasad makhluk hidup yang telah mati dan membusuk. Terasa menyeramkan? Tapi setidaknya Danur disini merupakan gerbang dialog tersendiri bagi Risa untuk berkomunikasi dengan makhluk dimensi lain termasuk dalam mengkomunikasikan izin penyajian kisah sehingga kisah buku ini bisa nikmati siapapun.


Bagiku pribadi, buku ini merupakan sebuah bacaan yang sangat menarik dengan tema horor yang diangkatnya.Plotnya sama sekali tidak klise dan  alur dalam buku ini juga mengalir apa adanya. Tidak ada paksaan untuk harus mempercayai apapun yang tertulis karena layaknya diari, buku ini seperti tengah bercerita tanpa berusaha menuntut. Setiap pengolahan kata dan diksinya juga pas, awal yang bisa dikatakan sangat baik bagi penulis baru seperti Risa.Tidak hanya itu selipan humor didalamnya--meski tidak banyak---memberikan ruang bagi pembaca untuk sejenak rileks  dari kisah serius perjalanan dan pergolakan batin Risa selama ia berhubungan dengan makhluk dari dimensi lain.


Janshen: Risa, aku kangen kakakku..
Risa:Aku tahu pasti malam ini kamu ingat padanya. Anna yang cantik kebanggaanmu itu,kan?
Janshen: Iya, Anna kakakku yang cantik!Lebih cantik dari kamu Risa! 
Risa: Aku tahu kok! pasti Anna hidungnya mancung,sementara hidungku jongkok tak menarik.
Janshen: Siapa bilang hidungmu jongkok? 
Risa: mmm...baiklah,kalau begitu hidungku duduk!
Janshen: Bukan!Hidungmu tidur terlentang! Hahahaha
Risa: Janshen!!! dasar ompong! 
(60-61)


Bagaimanapun juga aku hanya bisa mengatakan bahwa buku setebal 216 halaman ini sama sekali tidak semenakutkan yang dikira. Meski menceritakan kisah Risa dan pengalamannya bersama para makhluk tak kasat mata, hal itu lantas tak membuat buku ini murni horor dan hanya berusaha menakut-nakuti. Disini pembaca akan mendapati sisi manusiawi para hantu yang dulunya pernah hidup dalam sudut pandang berbeda-beda. Kisah mereka pun juga patut dijadikan pembelajaran dalam mengoreksi hidup kedepannya. Tapi percaya atau tidak pada kisah hantunya, Risa hanya bisa menegaskan seperti dalam kata pengantar buku ini. " Tidak perlu mempercayai keberadaan mereka karena mereka tak butuh pengakuan " Ya, mereka hanya butuh untuk didengar…




=================

Judul : Danur
Penulis : Risa Saraswati
Penerbit: Bukune
Terbit : @2012
ISBN : 602-220-019-9
Tebal : 216 hal

=================
Ost Danur (Risa Saraswati ft Arina-Mocca)

Berikut ini adalah lagu yang diciptakan Risa untuk sahabatnya,Pieter.